Skenario Evolusi Manusia
Dalam bab-bab sebelumnya, kita melihat bahwa di alam
tidak ada mekanisme yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Makhluk
hidup muncul bukan akibat proses evolusi, melainkan secara tiba-tiba
dalam bentuk yang sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri. Oleh
karena itu, jelaslah bahwa "evolusi manusia" juga merupakan sebuah
kisah yang tidak pernah terjadi.
Lalu, apa yang digunakan evolusionis sebagai pijakan
untuk dongeng ini? Dasarnya adalah keberadaan fosil yang berlimpah
sehingga evolusionis dapat membangun penafsiran imajinatif.
Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000 spesies
kera dan kebanyakan dari mereka telah punah. Kini hanya 120 spesies
kera yang masih hidup di bumi. Sekitar 6.000 spesies kera ini, mayoritas
telah punah, menjadi sumber yang kaya bagi evolusionis.
Evolusionis menulis skenario evolusi manusia dengan menyusun
sejumlah tengkorak yang cocok dengan tujuan mereka, berurutan dari
yang terkecil hingga yang terbesar, lalu menempatkan di antara mereka
tengkorak beberapa ras manusia yang telah punah. Menurut skenario
ini, manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yang sama. Nenek
moyang ini berevolusi sejalan dengan waktu. Sebagian dari mereka
menjadi kera modern, sedangkan kelompok lain berevolusi melalui
jalur yang berbeda, menjadi manusia masa kini. Akan tetapi, semua
temuan paleontologi, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan
evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi
lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan
kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanyalah pemalsuan,
penyimpangan, gambar-gambar serta komentar-komentar menyesatkan.
Catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang
sejarah, manusia tetap manusia, dan kera tetap kera. Sebagian fosil
yang dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal
dari ras manusia yang hidup hingga akhir-akhir ini sekitar 10.000
tahun lalu dan kemudian menghilang. Selain itu, banyak orang masa
kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik yang sama dengan
ras-ras manusia yang punah, yang dinyatakan evolusionis sebagai
nenek moyang manusia. Semua ini adalah bukti nyata bahwa manusia
tidak pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah.
Bukti terpenting adalah perbedaan anatomis yang besar
antara kera dan manusia, dan tidak satu pun di antara perbedaan
tersebut muncul melalui proses evolusi. "Bipedalitas" (kemampuan
berjalan dengan dua kaki) adalah salah satu di antaranya. Seperti
yang akan diuraikan lebih lanjut, bipedalitas hanya terdapat pada
manusia dan merupakan salah satu sifat terpenting yang membedakan
manusia dengan hewan.
Silsilah Imajiner Manusia
Darwinis menyatakan bahwa manusia modern saat ini berevolusi
dari makhluk serupa kera. Menurut mereka, selama proses evolusi
yang diperkirakan berawal 4-5 juta tahun lalu, terdapat beberapa
"bentuk transisi" antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut
skenario yang sepenuhnya rekaan ini, terdapat empat "kategori" dasar:
1. Australopithecus
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens
Evolusionis menyebut nenek moyang pertama manusia dan
kera sebagai "Australopithecus", yang berarti "Kera Afrika
Selatan". Australopithecus hanyalah spesies kera kuno yang telah
punah, dan memiliki beragam tipe. Sebagian berperawakan tegap, dan
sebagian lain bertubuh kecil dan ramping.
Evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia berikutnya
sebagai "homo", yang berarti "manusia". Menurut pernyataan
evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang
daripada Australopithecus, dan tidak terlalu berbeda dengan manusia
modern. Manusia modern di zaman kita, Homo sapiens, dikatakan terbentuk
pada tahapan terakhir evolusi spesies ini.
Satu
Tulang Rahang Sebagai Sumber Inspirasi
Fosil Ramapithecus pertama yang ditemukan:
tulang rahang yang hilang, terdiri dari dua bagian (kanan).
Evolusionis dengan berani menggambarkan Ramapithecus, keluarga
dan lingkungan tempat tinggal mereka, hanya berdasarkan
tulang rahang ini.
|
Fosil-fosil seperti "Manusia Jawa", "Manusia
Peking", dan "Lucy", yang senantiasa muncul di media
massa, jurnal dan buku-buku kuliah evolusionis, termasuk dalam salah
satu dari keempat spesies di atas. Spesies-spesies ini juga diasumsikan
bercabang menjadi sub-sub spesies.
Sejumlah kandidat bentuk transisi dari masa lampau, seperti
Ramapithecus, harus dikeluarkan dari silsilah imajiner evolusi
manusia setelah diketahui mereka adalah kera biasa.1
Dengan menyusun rantai hubungan sebagai: "Australopithecus
> Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens", evolusionis
menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adalah nenek moyang spesies
lainnya. Akan tetapi, temuan ahli-ahli paleoantropologi baru-baru
ini meng-ungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis dan Homo
erectus hidup di belahan bumi berbeda pada masa yang sama. Selain
itu, suatu segmen manusia tertentu yang digolongkan sebagai Homo
erectus ternyata hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandartalensis
dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) pernah hidup bersama di
wilayah yang sama. Situasi ini jelas menunjukkan ketidakabsahan
pernyataan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi yang lain.
Pada hakikatnya, semua temuan dan penelitian ilmiah telah
mengungkapkan bahwa catatan fosil tidak mengisyaratkan proses evolusi
seperti yang dikemukakan evolusionis. Fosil-fosil tersebut, yang
mereka katakan sebagai nenek moyang manusia, ternyata milik suatu
ras manusia atau milik spesies kera.
Lalu, yang manakah fosil manusia dan yang manakah fosil
kera? Mungkinkah salah satu dari keduanya bisa dianggap sebagai
bentuk transisi? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita amati masing-masing
kategori.
Australopithecus: Spesies Kera
Australopithecus, kategori pertama, berarti "kera dari
selatan". Makhluk ini diduga pertama kali muncul di Afrika sekitar
4 juta tahun lalu dan hidup hingga 1 juta tahun lalu. Australopithecus
memiliki beberapa kelas. Evolusionis berasumsi bahwa spesies Australopithecus
tertua adalah A. afarensis. Setelah itu muncul A. africanus, yang
memiliki kerangka lebih ramping, dan kemudian A. robustus, yang
memiliki kerangka relatif lebih besar. Sedangkan untuk A. boisei,
sejumlah peneliti menganggapnya spesies yang berbeda dan sebagian
lagi menggolongkannya dalam sub spesies dari A. robustus.
Semua spesies Australopithecus adalah kera yang sudah
punah dan menyerupai kera masa kini. Ukuran tengkorak mereka
sama atau lebih kecil dari simpanse yang hidup di masa sekarang.
Terdapat bagian menonjol pada tangan dan kaki mereka yang digunakan
untuk memanjat pohon seperti simpanse zaman sekarang, dan kaki mereka
memiliki kemampuan menggenggam dahan. Mereka bertubuh pendek (maksimum
130 cm) dan seperti simpanse masa kini, Australopithecus jantan
lebih besar dari Australopithecus betina. Sekian banyak karakteristik
seperti detail pada tengkorak, kedekatan kedua mata, gigi geraham
yang tajam, struktur rahang, lengan yang panjang, kaki yang pendek,
merupakan bukti bahwa makhluk hidup ini tidak berbeda dengan kera
zaman sekarang.
Evolusionis menyatakan bahwa meskipun Australopithecus
memiliki anatomi kera, mereka berjalan dengan tegak seperti manusia
dan bukan seperti kera.
Pernyataan "berjalan tegak" ini ternyata telah
dipertahankan selama puluhan tahun oleh sejumlah ahli paleoantropologi
seperti Richard Leakey dan Donald C. Johanson. Namun, banyak ilmuwan
telah melakukan penelitian pada struktur kerangka Australopithecus
dan membuktikan ketidakabsahan argumentasi tersebut. Penelitian
menyeluruh pada beragam spesimen Australopithecus oleh dua ahli
anatomi kelas dunia dari Inggris dan Amerika Serikat, Lord Solly
Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, menunjukkan bahwa makhluk ini
tidak bipedal dan bergerak seperti kera masa kini. Setelah mempelajari
fosil-fosil ini selama 15 tahun dengan segala perlengkapan yang
diberikan pemerintah Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan
5 orang spesialis sampai pada kesimpulan bahwa Australopithecus
hanya spesies kera biasa dan pasti tidak bipedal.
Zuckerman sendiri adalah seorang evolusionis.2 Begitu pula Charles E. Oxnard, evolusionis yang terkenal
dengan penelitiannya pada subjek tersebut, menyamakan struktur kerangka
Australopithecus dengan milik orang utan modern.3
Akhirnya, pada tahun 1994, sebuah tim dari Universitas
Liverpool Inggris melakukan riset menyeluruh untuk mencapai suatu
kesimpulan yang pasti. Mereka berkesimpulan bahwa "Australopithecus
adalah kuadripedal".4
Singkatnya, Australopithecus tidak memiliki kekerabatan
dengan manusia dan mereka hanyalah spesies kera yang telah punah.
Homo Habilis: Kera yang Dinyatakan
sebagai Manusia
Kemiripan struktur kerangka dan tengkorak Australopithecus
dengan simpanse, dan penolakan terhadap pernyataan bahwa makhluk
ini berjalan tegak, telah sangat menyulitkan ahli paleoantropologi
pro evolusi. Karena, menurut skema evolusi rekaan mereka, Homo erectus
muncul setelah Australopithecus. Karena awalan kata "homo" berarti
"manusia", maka Homo erectus tergolong kelas manusia berkerangka
tegak. Ukuran tengkoraknya dua kali lebih besar dari Australopithecus.
Peralihan lang-sung dari Australopithecus, yakni seekor kera mirip
simpanse, ke Homo erectus yang berkerangka sama dengan manusia
modern, adalah mustahil bahkan menurut teori mereka sendiri. Jadi,
diperlukan "mata rantai", yakni "bentuk transisi". Dan konsep Homo
habilis muncul untuk memenuhi kebutuhan ini.
|
Australopithecus Aferensis:
Kera yang Telah Punah
 Fosil
pertama yang ditemukan di Hadar, Ethiopia, yang
dianggap sebagai spesies Australopithecus aferensis
adalah AL 288-1 atau "Lucy". Sudah lama evolusionis
berusaha keras membuktikan bahwa Lucy dapat berjalan
tegak. Tetapi penelitian terakhir memastikan bahwa
binatang ini adalah kera biasa yang berjalan membungkuk.
Fosil
Australopithecus aferensis AL 333-105 di atas adalah
milik anggota muda spesies ini. karena itulah tonjolan
belum terbentuk pada tengkoraknya.
|
AUSTRALOPITHECUS |
SIMPANSE
MODERN |
|
|
Di
kanan adalah tengkorak fosil Australopithecus aferensis
AL 444-2, dan di bawahnya adalah tengkorak kera
modern. Kemiripan yang sangat jelas menegaskan bahwa
A. Aferensis adalah spesies kera biasa tanpa ciri-ciri
"mirip manusia". |
|
Pengelompokan Homo habilis diajukan pada tahun 1960-an
oleh Keluarga Leakey, sebuah keluarga "pemburu fosil". Menurut Leakey,
spesies baru yang mereka kelompokkan sebagai Homo habilis memiliki
kapasitas tengkorak relatif besar, kemampuan berjalan tegak dan
menggunakan peralatan dari batu dan kayu. Karena itu, mungkin saja
ia adalah nenek moyang manusia.
Fosil-fosil baru dari spesies yang sama ditemukan pada
akhir tahun 1980-an, dan mengubah total pandangan ini. Sejumlah
peneliti seperti Ber-nard Wood dan C. Loring Brace, berdasarkan
fosil-fosil baru tersebut mengatakan bahwa Homo habilis, yang berarti
"manusia yang mampu menggunakan alat" seharusnya digolongkan sebagai
Australopithecus habilis yang berarti "kera Afrika Selatan yang
mampu menggunakan alat", karena Homo habilis memiliki banyak kesamaan
ciri dengan kera Australopithecus. Ia memiliki lengan yang panjang,
kaki yang pendek dan struktur kerangka mirip kera seperti Australopithecus.
Jari tangan dan jari kakinya cocok untuk memanjat. Struktur tulang
rahangnya sangat mirip dengan rahang kera masa sekarang. Rata-rata
kapasitas tengkoraknya yang 600 cc juga mengindikasi fakta bahwa
Homo habilis adalah kera. Singkatnya, Homo habilis, yang diklaim
sebagai spesies berbeda oleh se-jumlah evolusionis, ternyata merupakan
spesies kera seperti semua Australopithecus yang lain.
Penelitian yang dilakukan pada tahun-tahun berikutnya
benar-benar menunjukkan bahwa Homo habilis tidak berbeda dengan
Australopithecus. Fosil tengkorak dan kerangka OH26 yang ditemukan
Tim White menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kapasitas tengkorak
kecil, lengan panjang serta kaki pendek yang memungkinkannya
memanjat pohon; tidak berbeda dengan kera modern.
Analisis terperinci yang dilakukan ahli antropologi Amerika,
Holly Smith, pada tahun 1994 menunjukkan bahwa Homo habilis bukan
"homo", atau "manusia", melainkan "kera".
Mengenai analisis yang dilakukannya terhadap gigi-gigi
Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus dan Homo neandertalensis,
Smith menyatakan:
Dengan membatasi analisis hanya pada spesimen-spesimen
yang memenuhi kriteria ini, pola perkembangan gigi Australopithecus
dan Homo habilis menunjukkan bahwa mereka sekelompok dengan kera
Afrika. Sedangkan Homo erectus dan Neandertal diklasifikasikan
dengan manusia.5
|
Homo Habilis: Satu Lagi Kera yang
Telah Punah
Sudah
sejak lama para evolusionis menyatakan bahwa makhluk yang
mereka namakan Homo habilis dapat berjalan tegak. Mereka
beranggapan telah menemukan mata rantai penghubung antara
kera dengan manusia. Akan tetapi, fosil-fosil baru Homo
habilis yang ditemukan Tim White pada tahun 1986 dan diberi
nama OH 62 membantah klaim ini. Fragmen fosil ini memperlihatkan
bahwa Homo habilis berlengan panjang dan berkaki pendek
seperti kera modern. Fosil ini mengakhiri klaim bahwa
Homo habilis adalah makhluk bipedal yang dapat berjalan
tegak. Ternyata, Homo habilis juga tidak lebih dari spesies
kera.
"Homo
habilis OH 7" di samping kanan adalah fosil yang paling
baik menggambarkan karakteristik rahang Homo habilis.
Fosil rahang ini memiliki gigi seri yang besar. Gigi gerahamnya
kecil. Bentuk rahang persegi. Semua ciri ini membuat rahang
ini sangat mirip dengan rahang kera masa kini. Dengan
kata lain, rahang Homo habilis menegaskan sekali lagi
bahwa makhluk ini adalah sejenis kera.
|
Tahun itu juga, tiga spesialis anatomi, Fred Spoor, Bernard Wood
dan Frans Zonneveld, menarik kesimpulan serupa melalui metode yang
sama sekali berbeda. Metode ini berdasarkan analisis perbandingan
saluran setengah lingkaran pada telinga bagian dalam milik manusia
dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Saluran ini berbeda
jauh antara manusia yang berjalan tegak, dengan kera yang berjalan
membungkuk. Saluran telinga bagian dalam pada semua Australopithecus
serta spesimen Homo habilis yang diteliti oleh Spoor, Wood dan Zonneveld,
sama seperti pada kera modern. Saluran telinga bagian dalam pada
Homo erectus sama dengan pada manusia modern.6
Temuan ini membuahkan dua hasil penting:
1. Fosil-fosil yang dikatakan sebagai Homo habilis sebenarnya
tidak termasuk kelas "homo", atau manusia, tetapi kelas Australopithecus,
atau kera.
2. Baik Homo habilis maupun Australopithecus adalah makhluk
hidup yang berjalan membungkuk, dan karenanya memiliki kerangka
kera. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun dengan manusia.
Homo Rudolfensis: Susunan Wajah yang
Salah
Homo rudolfensis adalah nama yang diberikan kepada beberapa
bagian fosil yang ditemukan pada tahun 1972. Kelompok yang diwakili
fosil ini juga dinamai Homo rudolfensis karena ditemukan di dekat
Sungai Rudolf di Kenya. Mayoritas ahli paleoantropologi menyetujui
bahwa fosil-fosil ini tidak berasal dari spesies yang berbeda, melainkan
termasuk Homo habilis.
Richard Leakey, penemu fosil tersebut, memperkenalkan
tengkorak yang dinamai "KNM-ER 1470" dan dinyatakan berusia 2,8
juta tahun itu sebagai penemuan terbesar dalam sejarah antropologi
dan berpengaruh luas. Menurut Leakey, makhluk berukuran tengkorak
kecil seperti Australopithecus namun berwajah manusia tersebut adalah
mata rantai yang hilang antara Australopithecus dan manusia. Akan
tetapi, tidak berapa la-ma kemudian diketahui bahwa wajah mirip
manusia dari tengkorak KNM-ER 1470 yang sering tampil pada sampul
depan majalah-majalah ilmiah adalah hasil penggabungan fragmen-fragmen
tengkorak secara keliru-yang mungkin dilakukan dengan sengaja. Prof.
Tim Bromage, pengkaji anatomi wajah manusia, menjelaskan kenyataan
yang diungkapkannya dengan bantuan simulasi komputer ini pada tahun
1992:
Ketika KNM-ER 1470 pertama kali direkonstruksi, wajahnya
dilekatkan pada tengkorak dalam posisi hampir vertikal, sangat
menyerupai wajah datar manusia modern. Akan tetapi penelitian
baru-baru ini mengenai hubungan-hubungan anatomis menunjukkan
bahwa pada masa hidupnya wajah itu seharusnya sangat menonjol,
memunculkan aspek mirip kera, agak mirip dengan wajah Australopithecus.7
Mengenai kasus ini, seorang ahli paleoantropologi evolusionis,
J. E. Cronin, menyatakan:
... wajahnya yang dikonstruksi relatif kokoh, naso-alveolar
clivus yang agak datar (mengarah wajah cembung Australopithecus),
lebar-maksimum tengkorak yang rendah (pada bagian temporal), gigi
taring yang kuat dan geraham yang besar (seperti yang ditunjukkan
oleh sisa akarnya), seluruhnya merupakan sifat-sifat yang relatif
primitif, yang menghubungkan spesimen tersebut dengan kelompok
A. africanus.8
C. Loring Brace dari Universitas Michigan berkesimpulan
sama setelah ia menganalisis struktur rahang dan gigi tengkorak
1470. Menurutnya, ukuran rahang dan bagian yang ditumbuhi gigi geraham
menunjukkan bahwa ER 1470 memiliki wajah dan gigi Australopithecus.9
Prof. Alan Walker, ahli paleoantropologi dari Universitas
John Hopkins telah melakukan banyak penelitian pada KNM-ER 1470
seperti halnya Leakey, dan bersikeras bahwa makhluk hidup ini seharusnya
tidak dikelompokkan sebagai "homo" atau spesies manusia seperti
Homo habilis atau Homo rudolfensis, tetapi harus dimasukkan ke dalam
spesies Australopithecus.10
Jadi, pengelompokan seperti Homo habilis atau
Homo rudolfensis yang dikatakan sebagai bentuk transisi antara
Australopithecines dengan Homo erectus, sepenuhnya hanyalah rekaan.
Sebagaimana dikuatkan oleh banyak peneliti masa kini, makhluk-makhluk
hidup ini adalah anggota Australopithecus. Seluruh ciri anatomis
memperlihatkan bahwa mereka adalah spesies kera.
Setelah makhluk-makhluk ini, yang ternyata semuanya spesies
kera, kemudian muncul fosil-fosil "homo" yang merupakan fosil-fosil
manusia.
Homo Erectus dan Setelahnya: Manusia
Menurut skema rekaan evolusionis, evolusi internal spesies
Homo adalah sebagai berikut: pertama Homo erectus, kemudian Homo
sapiens purba dan Manusia Neandertal, lalu Manusia Cro-Magnon dan
terakhir manusia modern. Akan tetapi, semua klasifikasi ini ternyata
hanya ras-ras asli manusia. Perbedaan di antara mereka tidak lebih
dari perbedaan antara orang Inuit (eskimo) dengan negro atau antara
pigmi dengan orang Eropa.
Mari kita terlebih dulu mengkaji Homo erectus, yang dikatakan
sebagai spesies manusia paling primitif. Kata "erect" berarti "tegak",
maka "Homo erectus" berarti "manusia yang berjalan tegak". Evolusionis
harus memisahkan manusia-manusia ini dari yang sebelumnya dengan
menambahkan ciri "tegak", sebab semua fosil Homo erectus bertubuh
tegak, tidak seperti spesimen Australopithecus atau Homo habilis.
Jadi, tidak terdapat perbedaan antara kerangka manusia modern
dan Homo erectus.
Alasan utama evolusionis mendefinisikan Homo erectus
sebagai "primitif" adalah ukuran tengkoraknya (900-1100 cc) yang
lebih kecil dari rata-rata manusia modern, dan tonjolan alisnya
yang tebal. Namun, banyak manusia yang hidup di dunia sekarang
memiliki volume tengkorak sama dengan Homo erectus (misalnya
suku Pigmi) dan ada beberapa ras yang memiliki alis menonjol (seperti
suku Aborigin Australia).
Sudah menjadi fakta yang disepakati bersama bahwa perbedaan
ukuran tengkorak tidak selalu menunjukkan perbedaan kecerdasan atau
kemampuan. Kecerdasan bergantung pada organisasi internal otak,
dan bukan pada volumenya.11
Fosil yang telah menjadikan Homo erectus terkenal di
dunia adalah fosil Manusia Peking dan Manusia Jawa
yang ditemukan di Asia. Akan tetapi, akhirnya diketahui bahwa dua
fosil ini tidak bisa diandalkan. Manusia Peking terdiri dari beberapa
bagian yang terbuat dari plester untuk menggantikan bagian asli
yang hilang. Sedangkan Manusia Jawa "tersusun" dari fragmen-fragmen
tengkorak, ditambah dengan tulang panggul yang ditemukan beberapa
meter darinya, tanpa indikasi bahwa tulang-tulang tersebut berasal
dari satu makhluk hidup yang sama. Itu sebabnya fosil Homo erectus
yang ditemukan di Afrika menjadi lebih penting. (Perlu diketahui
pula bahwa sejumlah fosil yang dikatakan sebagai Homo erectus, oleh
sebagian evolusionis dimasukkan ke dalam kelompok kedua yang diberi
nama "Homo ergaster". Ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang
masalah ini. Kita akan menganggap semua fosil ini termasuk kelompok
Homo erectus).
|
Homo Erectus:
Ras Manusia Kuno 
Homo erectus berarti "manusia tegak". Semua fosil
yang termasuk spesies ini berasal dari ras-ras manusia
tertentu. Karena sebagian besar fosil Homo erectus tidak
memiliki karakteristik yang sama, sungguh sulit mendefinisikan
mereka berdasarkan tengkoraknya. Itu sebabnya peneliti
evolusionis yang berbeda membuat klasifikasi dan penamaan
yang berbeda pula. Kiri atas adalah tengkorak yang ditemukan
di Koobi Fora, Afrika pada tahun 1975 yang secara umum
mendefinisikan Homo erectus. Kanan atas adalah tengkorak
Homo ergaster KNM-ER 3733, yang masih dipertanyakan.
Ukuran tengkorak dari
beragam fosil Homo erectus ini berkisar antara 900 hingga
1100 cc. Angka ini masih dalam batas ukuran tengkorak
manusia modern.
Kerangka KNM-WT 15000
atau Anak Turkana di sebelah kanan barangkali fosil manusia
tertua dan terlengkap yang pernah ditemukan. Penelitian
terhadap fosil yang di-perkirakan berusia 1,6 juta tahun
ini menunjukkan bahwa pemiliknya seorang anak berusia
12 tahun yang bisa mencapai tinggi dewasa sekitar 1,80
m. Fosil yang sangat menyerupai ras Neandertal ini adalah
salah satu bukti paling kuat yang menggugurkan kisah evolusi
manusia.
Evolusionis Donald Johnson
melukiskan fosil ini sebagai berikut: "Ia tinggi dan kurus.
Bentuk tubuh dan perbandingan antara tangan dan kakinya
sama dengan orang Afrika Khatulistiwa yang hidup saat
ini. Ukuran tangan dan kakinya cocok sekali dengan orang
dewasa kulit putih Amerika Utara masa kini."
|
Spesimen Homo erectus paling terkenal dari Afrika adalah
fosil "Narikotome homo erectus" atau "Anak Lelaki Turkana",
yang ditemukan dekat danau Turkana, Kenya. Dipastikan bahwa fosil
tersebut milik seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang mungkin
akan mencapai tinggi dewasa 1,83 meter. Struktur kerangka yang tegak
dari fosil tidak berbeda dengan manusia modern. Mengenai ini, seorang
ahli paleoantropologi Amerika, Alan Walker, meragukan kemampuan
ahli patologi kebanyakan untuk membedakan kerangka fosil tersebut
dengan kerangka manusia modern."12
Tentang tengkorak tersebut, Walker berkata bahwa
"tengkorak itu tampak sangat mirip dengan Neandertal".13
Seperti yang akan kita temukan pada bab berikutnya,
Neandertal adalah ras manusia modern. Jadi, Homo erectus adalah
ras manusia modern juga.
|
Pelaut Berusia 700 Ribu Tahun
|
| "Manusia
prasejarah ternyata lebih cerdas dari yang kita duga…"
Berita yang
dimuat di New Scientist pada tanggal 14 Maret 1998 ini mengungkapkan
bahwa manusia yang oleh evolusionis disebut Homo erectus
telah melakukan pelayaran 700 ribu tahun lalu. Manusia ini
memiliki pengetahuan dan teknologi yang cukup untuk membangun
kapal serta memiliki kebudayaan yang menggunakan alat perhubungan
laut, karenanya tidak bisa dikatakan "primitif". |
Bahkan evolusionis Richard Leakey menyatakan bahwa perbedaan
antara Homo erectus dan manusia modern tidak lebih dari variasi
ras:
Perbedaan bentuk tengkorak, tingkat tonjolan wajah,
kekokohan dahi dan sebagainya akan terlihat. Perbedaan-perbedaan
ini mungkin seperti yang kita saksikan saat ini pada ras-ras manusia
modern yang terpisah secara geografis. Variasi biologis semacam
ini muncul ketika populasi-populasi saling terpisah secara geografis
untuk kurun waktu yang lama.14
Prof. William Laughlin dari Universitas Connecticut melakukan
pengujian anatomi menyeluruh terhadap orang-orang Inuit dan orang-orang
yang hidup di kepulauan Aleut. Ia mendapati mereka sangat mirip
dengan Homo erectus. Laughlin berkesimpulan bahwa semua ras ini
ternyata ras-ras yang bervariasi dari Homo sapiens (manusia modern).
Jika kita mempertimbangkan perbedaan besar antara kelompok-kelompok
yang berjauhan seperti Eskimo dan Bushman, yang diketahui berasal
dari satu spesies Homo sapiens, maka dapat disimpulkan bahwa Sinanthropus
[spesimen erectus-ALC] termasuk dalam spesies yang sama.15
Di lain pihak, terdapat jurang pemisah yang lebar antara
Homo erectus, suatu ras manusia, dan kera yang mendahului Homo erectus
dalam skenario "evolusi manusia" (Australopithecus, Homo habilis,
Homo rudolfensis). Ini berarti bahwa manusia pertama muncul secara
tiba-tiba dalam catatan fosil dan tanpa sejarah evolusi apa pun.
Hal ini sudah cukup jelas mengindikasikan bahwa mereka diciptakan.
Akan tetapi, pengakuan atas fakta ini akan sangat bertentangan
dengan filsafat dogmatis dan ideologi evolusionis. Karenanya, mereka
mencoba menggambarkan Homo erectus, ras manusia sesungguhnya, sebagai
makhluk separo kera. Pada rekonstruksi Homo erectus, evolusionis
berkeras menggambarkan ciri-ciri kera. Sebaliknya, dengan metode
penggambaran yang sama, mereka memanusiakan kera seperti Australopithecus
atau Homo habilis. Dengan cara ini, mereka berupaya "mendekatkan"
kera dan manusia, dan menutup celah antara dua kelompok makhluk
hidup yang berbeda ini.
Neandertal
TOPENG PALSU:
Meskipun tidak berbeda dengan manusia modern, Neandertal
masih saja dilukiskan oleh evolusionis sebagai makhluk mirip
kera |
Neandertal adalah manusia yang tiba-tiba muncul 100 ribu
tahun lalu di Eropa dan kemudian menghilang - atau terasimilasi
melalui pembauran dengan ras-ras lain secara diam-diam namun cepat,
35 ribu tahun lalu. Perbedaan antara mereka dengan manusia modern
hanyalah kerangka tubuh yang lebih kekar dan kapasitas tengkorak
mereka sedikit lebih besar.
Neandertal adalah ras manusia, dan kenyataan ini sekarang
diakui oleh hampir semua orang. Evolusionis telah berusaha keras
menampilkan mereka sebagai "spesies primitif", namun semua temuan
menunjukkan bahwa Neanderthal tidak berbeda dengan orang berperawakan
"kekar" yang lewat di jalan saat ini. Seorang pakar dalam hal ini,
Erik Trinkaus, ahli paleoantropologi dari Universitas New Mexico
menulis:
Perbandingan anatomis terperinci antara sisa-sisa kerangka
Neandertal dengan kerangka manusia modern tidak menunjukkan dengan
pasti bahwa kemampuan lokomotif, manipulatif, intelektual atau bahasa
Neandertal lebih rendah dari manusia modern.16
Banyak peneliti modern menggolongkan manusia Neandertal
sebagai suatu sub spesies dari manusia modern dan menamakannya "Homo
sapiens neandertalensis". Temuan-temuan membuktikan bahwa Neandertal
mengubur mayat kerabat mereka, membuat alat musik dan memiliki hubungan
kebudayaan dengan Homo sapiens sapiens yang hidup seperiode. Tegasnya,
Neandertal adalah ras manusia bertubuh "kekar" yang menghilang seiring
perjalanan masa.
Homo Sapiens Kuno, Homo Heilderbergensis
dan
Manusia Cro-Magnon
Dalam skema evolusi rekaan, Homo sapiens kuno adalah
tahapan terakhir sebelum manusia modern. Pada kenyataannya, evolusionis
tidak dapat berkata banyak tentang manusia ini, karena hanya ada
sedikit perbedaan antara mereka dengan manusia modern. Sejumlah
peneliti bahkan mengatakan bahwa representasi ras ini masih hidup
hingga sekarang, dan merujuk kepada orang Aborigin di Australia
sebagai contoh. Seperti Homo sapiens, orang Aborigin juga memiliki
alis tebal yang menonjol, struktur rahang miring ke dalam dan kapasitas
tengkorak sedikit lebih kecil. Di samping itu, sejumlah penemu-an
penting mengisyaratkan bahwa manusia semacam itu pernah hidup di
Hongaria dan di beberapa desa di Italia hingga beberapa waktu lalu.
|  
Neandertal: Manusia Kekar
Di
atas ini adalah tengkorak Homo sapiens neandertalensis,
tengkorak Amud 1 yang ditemukan di Israel. Manusia Neanderthal
umumnya dikenal berperawakan kekar tapi pendek. Akan tetapi,
pemilik fosil ini diperkirakan bertinggi badan 1,80 m. Kapasitas
tengkorak terbesar dari yang pernah dijumpai: 1740 cc. Karena
itu, fosil tersebut termasuk bukti penting yang dengan telak
menghancurkan klaim bahwa Neandertal adalah spesies primitif.
|
Kelompok yang disebut sebagai Homo heilderbergensis dalam
literatur evolusionis ternyata sama dengan Homo sapiens kuno. Dua
istilah berbeda ini digunakan untuk mendefinisikan ras manusia yang
sama, karena perbedaan konsep di kalangan evolusionis. Semua fosil
yang termasuk dalam golongan Homo heilderbergensis menunjukkan bahwa
kelompok manusia yang secara anatomis sangat mirip dengan orang
Eropa modern telah hidup 500 ribu dan bahkan 740 ribu tahun sebelumnya,
pertama di Inggris dan kemudian di Spanyol.
Diperkirakan manusia Cro-Magnon hidup 30.000 tahun lalu.
Manusia ini memiliki tengkorak berbentuk kubah dan dahi yang lebar.
Kapasitas tengkoraknya 1.600 cc, di atas rata-rata untuk manusia
modern. Tengkoraknya memiliki tonjolan alis yang tebal dan tonjolan
tulang di bagian belakang yang merupakan ciri manusia Neanderthal
dan Homo erectus.
Kendati Cro-Magnon dianggap suatu ras Eropa, struktur
dan volume tengkoraknya tampak lebih mirip tengkorak ras-ras yang
hidup di Afrika dan daerah tropis saat ini. Berdasarkan ini, Cro-Magnon
diperkirakan sebagai suatu ras Afrika kuno. Sejumlah temuan paleoantropologi
telah menunjukkan bahwa ras Cro-Magnon dan Neandertal saling membaur,
kemudian mengawali ras-ras dewasa ini. Sekarang sudah diakui bahwa
representasi dari ras Cro-Magnon masih hidup di beberapa wilayah
di benua Afrika, dan di daerah Salute dan Dordogne di Prancis. Kelompok
manusia berkarakteristik sama juga hidup di Polandia dan Hongaria.
Hidup Sezaman dengan Nenek Moyang
Kajian kita sejauh ini telah membentuk sebuah gambaran
jelas: skenario "evolusi manusia" hanyalah fiksi. Agar silsilah
seperti itu ada, evolusi bertahap dari kera hingga manusia seharusnya
sudah terjadi dan catatan fosil dari proses ini seharusnya telah
ditemukan. Akan tetapi, ada jarak pemisahkan sangat lebar antara
kera dan manusia. Struktur kerangka, kapasitas tempurung kepala
dan kriteria lain seperti berjalan tegak atau sangat membungkuk,
membedakan manusia dari kera. (Dari hasil riset tahun 1994 tentang
saluran keseimbangan pada telinga bagian tengah, Australopithecus
dan Homo habilis dikelompokkan sebagai kera, sedangkan Homo erectus
dikelompokkan sebagai manusia.)
Satu lagi temuan penting yang membuktikan bahwa tidak
mungkin ada silsilah keluarga di antara spesies yang berbeda-beda
ini adalah: spesies yang ditampilkan sebagai nenek moyang dan penerusnya
ternyata hidup bersamaan. Jika anggapan evolusionis benar bahwa
Australopithecus berubah menjadi Homo habilis dan kemudian berubah
menjadi Homo erectus, maka seharusnya mereka hidup pada era yang
berurutan. Akan tetapi, tidak ada urutan kronologis seperti itu.
| 
JARUM BERUSIA 26
RIBU TAHUN:
Inilah sebuah
fosil menarik yang menunjukkan bahwa Neanderthal memiliki
pengetahuan tentang pakaian: sebuah jarum berusia 26 ribu
tahun. (D. Johanson, B. Edgar From Lucy to Language, hlm.
99).
|
Menurut perkiraan evolusionis, Australopithecus hidup
dari 4 juta - 1 juta tahun lalu. Sedangkan makhluk hidup yang digolongkan
Homo habi-lis diduga hidup hingga 1,9-1,7 juta tahun lalu. Homo
rudolfensis, yang dianggap lebih "maju" daripada Homo habilis, diketahui
berusia sekitar 2,8-2,5 juta tahun! Dengan kata lain, Homo rudolfensis
hampir 1 juta tahun lebih tua dari Homo habilis, sang "nenek moyang".
Di lain pihak, periode Homo erectus adalah sekitar 1,8-1,6 juta
tahun lalu. Artinya, spesimen Homo erectus muncul di bu-mi pada
selang waktu sama dengan Homo habilis, yang disebut sebagai nenek
moyangnya .
Alan Walker memperkuat fakta ini dengan menyatakan bahwa
"terdapat bukti dari Afrika Timur tentang sejumlah kecil Australopithecus
yang bertahan hidup sezaman dengan H. habilis, lalu dengan H. erectus."17
Louis
Leakey pun telah menemukan fosil-fosil Australopithecus, Homo habilis
dan Homo erectus yang berdekatan satu sama lain di wilayah Celah
Olduvai, lapisan Bed II.18
Jadi pastilah, tidak ada silsilah kekerabatan seperti
itu. Ahli paleontologi dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould,
menjelaskan jalan buntu bagi evolusi ini meskipun ia sendiri seorang
evolusionis:
Apa jadinya dengan urutan yang kita susun, jika
ada tiga keturunan hominid hidup bersama (A. africanus, A. robustus,
dan H. habilis), dan tidak satu pun dari mereka menjadi keturunan
dari yang lain? Lagipula, tidak satu pun dari ketiganya memperlihatkan
kecenderungan evolusi semasa mereka hidup di bumi.19
Jika kita beralih dari Homo erectus ke Homo sapiens,
kita kembali melihat bahwa tidak ada silsilah untuk dibicarakan.
Ada bukti yang menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens kuno
hidup hingga 27.000 tahun dan bahkan 10.000 tahun sebelum masa kita.
Dalam rawa Kow di Australia, tengkorak Homo erectus berusia sekitar
13.000 tahun telah ditemukan. Di pulau Jawa, sebuah tengkorak Homo
erectus yang ditemukan berumur sekitar 27.000 tahun.20
Sejarah Rahasia Homo sapiens
| 
Salah satu literatur berkala evolusionis, Discover, menampilkan
wajah manusia berusia 800.000 tahun pada sampul depan dengan
pertanyaan evolusionis "Inikah wajah masa lampau kita?".
|
Fakta paling menarik dan penting yang menggugurkan landasan
utama silsilah imajiner teori evolusi ini adalah sejarah manusia
modern, yang ternyata cukup tua. Data paleoantropologi mengungkapkan
bahwa orang-orang Homo sapiens yang persis sama dengan kita, telah
hidup pada satu juta tahun lalu.
Orang yang menemukan bukti pertama dalam hal ini adalah
Louis Leakey, seorang ahli paleoantropologi evolusionis. Pada ta-hun
1932, di daerah Kanjera sekitar Danau Victoria di Kenya, Leakey
menemukan be-berapa fosil yang berasal dari zaman Pleistosin Tengah.
Fosil itu ternyata tidak berbeda dengan manusia modern. Akan tetapi,
zaman Pleistosin Tengah berarti satu juta tahun lalu. 21
Karena penemuan ini membalikkan silsilah keturunan
evolusi, sejumlah ahli paleoantropologi evolusionis tidak mau mengakuinya.
Namun Leakey selalu bertahan bahwa perkiraannya benar.
Ketika kontroversi ini hampir terlupakan, sebuah fosil
ditemukan di Spanyol pada tahun 1995 dan dengan sangat gamblang
menunjukkan bahwa sejarah Homo sapiens ternyata jauh lebih tua dari
yang diperkirakan. Fosil tersebut ditemukan di sebuah gua bernama
Gran Dolina di wilayah Atapuerca di Spanyol oleh tiga orang ahli
paleoantropologi Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil tersebut
adalah wajah anak laki-laki berusia 11 tahun yang sepenuhnya tampak
seperti manusia modern. Padahal, fosil tersebut telah berusia 800.000
tahun sejak ia meninggal. Majalah Discover memuat rincian kisah
ini pada Desember 1997.
Fosil tersebut bahkan menggoyahkan keyakinan Ferreras,
yang memimpin penggalian Gran Dolina. Ia berujar:
Kami mengharapkan sesuatu yang signifikan, sesuatu yang
besar, sesuatu yang bombastis..., sesuatu yang "primitif". Harapan
kami terhadap seorang anak berusia 800.000 tahun adalah sesuatu
seperti Anak Lelaki Turkana. Dan apa yang ka-mi temukan adalah wajah
yang sama sekali modern…. Bagi saya hal ini sangat spektakuler…
sesuatu yang mengguncangkan. Menemukan sesuatu yang sama sekali
tidak diharapkan seperti itu.... Bukan tentang masalah menemukan
fosil; menemukan fosil bisa juga mengejutkan, dan tidak jadi masalah.
Namun hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu yang
Anda kira berasal dari zaman sekarang, di masa lam-pau. Sama halnya
dengan menemukan sesuatu seperti… seperti tape recorder di Gran
Dolina. Itu akan sangat mengejutkan. Kami tidak mengharapkan
ada kaset dan tape recorder pada zaman Pleistosin Awal. Menemukan
wajah modern begitu pula. Kami sangat terkejut melihatnya.22
Fosil tersebut menegaskan fakta bahwa sejarah Homo sapiens
harus ditarik ke belakang hingga 800 ribu tahun lalu. Setelah pulih
dari keterkejutannya, evolusionis yang menemukan fosil tersebut
memutuskan bahwa fosil ini berasal dari spesies yang berbeda, sebab
menurut silsilah keturunan evolusi, tidak ada Homo sapiens yang
pernah hidup 800 ribu tahun lalu. Jadi, mereka mengarang sebuah
spesies baru bernama "Homo antecessor" dan memasukkan tengkorak
Atapuerca ke dalam kelompok ini.
| 
Temuan pondok berusia 1,7 juta tahun
telah mengagetkan kalangan ilmuwan. Pondok ini tampak seperti
pondok yang digunakan orang-orang Afrika sekarang.
|
Sebuah Pondok Berusia 1,7 Juta Tahun
Telah banyak temuan yang menunjukkan bahwa usia Homo
sapiens bahkan lebih awal dari 800 ribu tahun. Satu di antaranya
adalah penemuan Louis Leakey di awal tahun 1970-an di Celah Olduvai.
Di tempat ini, di lapisan Bed II, Leakey menemukan bahwa spesies
Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup pada masa
yang sama. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah sebuah bangunan
yang juga ditemukan Leakey pada lapisan Bed II. Di sini, Leakey
menemukan sisa-sisa pondok batu. Yang tidak biasa dari peristiwa
ini adalah bahwa konstruksi ini, yang masih digunakan di sejumlah
daerah di Afrika, hanya dapat dibangun oleh Homo sapiens! Jadi,
menurut temuan Leakey, Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus
dan manusia modern tentu hidup pada masa yang sama sekitar 1,7 juta
tahun lalu.23 Penemuan ini dengan pasti menggugurkan teori evolusi
yang menyatakan bahwa manusia modern berevolusi dari spesies mirip
kera seperti Australopithecus.
Jejak Kaki Manusia Modern, Berusia
3,6 Juta Tahun!
Sejumlah penemuan lain merunut asal usul manusia modern
hingga 1,7 juta tahun yang lalu. Salah satu dari temuan penting
ini adalah jejak-jejak kaki yang ditemukan di Laetoli, Tanzania
oleh Mary Leakey pada tahun 1977. Jejak-jejak kaki ini ditemukan
pada lapisan yang menurut perhitungan berusia 3,6 juta tahun. Yang
lebih penting lagi, jejak-jejak kaki ini tidak berbeda dari jejak
kaki manusia modern.
Jejak-jejak kaki yang ditemukan Mary Leakey kemudian
dipelajari sejumlah ahli paleoantropologi seperti Don Johanson dan
Tim White. Hasilnya sama. White menulis:
Tidak disangsikan lagi…. Jejak-jejak itu serupa
dengan jejak kaki manusia modern. Jika jejak itu ditinggalkan
di pasir pantai California sekarang, dan seorang anak berusia
empat tahun ditanya tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa
seseorang telah berjalan di sana. Ia tidak akan dapat membedakannya
dengan seratus jejak kaki lain di pantai, begitu pula Anda.24
| 
Jejak kaki Laetoli milik manusia modern,
tetapi berusia jutaan tahun.
|
Setelah meneliti jejak tersebut, Louis Robbins dari Universitas
North California berkomentar sebagai berikut:
Lengkungannya agak tinggi - manusia yang lebih kecil
memiliki lengkungan lebih tinggi daripada yang saya miliki - dan
jempol kakinya besar dan sejajar dengan jari kaki sebelahnya.…
Jari-jari kaki menekan tanah seperti jari-jari kaki manusia. Anda
tidak akan mendapati ini pada hewan.25
Pengujian-pengujian morfologis tetap menunjukkan bahwa
jejak-jejak kaki tersebut harus diakui berasal dari manusia, lebih
jauh lagi, manusia modern (Homo sapiens). Russell Tuttle yang mempelajari
ini menulis:
Jejak-jejak ini mungkin berasal dari seorang Homo
sapiens kecil yang bertelanjang kaki... Dari semua ciri morfologi
yang teramati, kaki individu yang membuat jejak tersebut tidak
berbeda dengan kaki manusia modern.26
Penelitian yang jujur tentang jejak-jejak kaki tersebut
mengungkapkan pemilik sebenarnya. Pada kenyataan, jejak-jejak kaki
ini terdiri dari 20 jejak dari seorang manusia modern berusia 10
tahun yang membatu dan 27 jejak kaki dari seorang yang lebih muda.
Mereka benar-benar manusia modern seperti kita.
Situasi ini menjadikan jejak kaki Laetoli sebagai topik
diskusi selama bertahun-tahun. Para pakar paleoantropologi evolusionis
berupaya keras memikirkan sebuah penjelasan karena sulit bagi mereka
menerima kenyataan bahwa manusia modern telah berjalan di muka bumi
3,6 juta tahun lalu. Pada tahun 1990-an, "penjelasan" ini mulai
terbentuk. Evolusionis memutuskan bahwa jejak kaki ini tentunya
ditinggalkan oleh Australopithecus, sebab menurut teori mereka,
mustahil spesies homo ada 3,6 juta tahun lalu. Dalam artikelnya
pada tahun 1990, Russell H. Tuttle menulis sebagai berikut:
Singkatnya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs
G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang biasa bertelanjang
kaki. Tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hominid Laetoli
memiliki kemampuan bipedal yang lebih rendah dari kita. Kalau saja
jejak pada situs G ini tidak diketahui setua itu, kami akan langsung
menyimpulkan bahwa jejak tersebut dibuat oleh anggota genus Homo....
Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan asumsi lemah bahwa jejak
Laetoli telah dibuat oleh jenis Lucy, yaitu Australopithecus aferensis.27
Dengan kata lain, jejak-jejak berumur 3,6 juta tahun
ini tidak mungkin milik Australopithecus. Satu-satunya alasan mengapa
jejak-jejak ini dianggap berasal darinya adalah karena jejak tersebut
berada pada lapisan vulkanik berumur 3,6 juta tahun. Jejak tersebut
dianggap milik Australopithecus dengan asumsi bahwa manusia tidak
mungkin telah hidup pada zaman seawal itu.
Penafsiran jejak Laetoli menunjukkan kepada kita suatu
realita yang sangat penting. Evolusionis mendukung teorinya tidak
dengan mempertimbangkan temuan ilmiah, tetapi justru mengabaikannya.
Di sini kita mendapati sebuah teori yang dibela secara membabi bu-ta,
dan semua temuan yang bertentangan dengan teori tersebut diabaikan
atau diselewengkan demi tujuan mereka.
Singkatnya, teori evolusi bukan ilmu pengetahuan, tetapi
dogma yang dijaga agar tetap hidup dengan mengabaikan ilmu pengetahuan.
Kebuntuan Bipedalisme bagi Evolusi
Penelitian terakhir mengungkapkan bahwa
tidak mungkin bagi kerangka bungkuk kera yang sesuai untuk
berjalan kuadripedal berevolusi menjadi kerangka tegak manusia
yang sesuai untuk berjalan bipedal. |
Terlepas dari catatan fosil yang telah kita diskusikan,
lebarnya jarak perbedaan anatomis antara manusia dan kera juga menggugurkan
cerita rekaan evolusi manusia. Salah satu perbedaan ini berhubungan
dengan cara berjalan.
Manusia berjalan tegak dengan kedua kakinya. Suatu cara
bergerak yang sangat unik dan tidak didapati pada spesies-spesies
lain. Sebagian hewan memang memiliki kemampuan terbatas untuk bergerak
sembari berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Hewan seperti beruang
dan monyet terkadang bergerak seperti ini ketika hendak menggapai
makanan, dan hanya selama beberapa saat. Normalnya, kerangka mereka
condong ke depan dan mereka berjalan dengan empat kaki.
Lalu kemudian, apakah bipedalisme merupakan hasil evolusi
dari cara berjalan monyet yang kuadripedal seperti yang diklaim
evolusionis?
Tentu saja tidak. Penelitian telah menunjukkan bahwa
evolusi bipedalisme tidak pernah dan tidak mungkin terjadi. Pertama,
cara berjalan bipedal bukan suatu keuntungan. Cara monyet bergerak
lebih mudah, lebih cepat dan lebih efisien daripada cara berjalan
bipedal manusia. Manusia tidak dapat meloncat dari satu pohon ke
pohon lain tanpa menyentuh tanah seperti simpanse, atau berlari
dengan kecepatan 125 km/jam seperti cheetah. Sebaliknya, karena
manusia berjalan dengan kedua kakinya, ia bergerak jauh lebih lambat
di atas tanah. Untuk alasan yang sama, manusia adalah salah satu
spesies yang paling tidak terlindung di alam, jika ditinjau dari
gerakan dan pertahanan. Menurut logika evolusi, monyet seharusnya
tidak berevolusi mengambil cara berjalan bipedal. Sebaliknya, manusialah
yang seharusnya berevolusi menjadi kuadripedal.
Kebuntuan lain dari klaim evolusi adalah bahwa cara berjalan
bipedal tidak sesuai dengan model "perkembangan bertahap" Darwinisme.
Model ini, yang menjadi dasar evolusi, mengharuskan adanya suatu
cara berjalan "gabungan" antara cara berjalan bipedal dan kuadripedal.
Tetapi penelitian komputer yang dilakukan Robin Crompton, seorang
ahli paleoantropologi Inggris pada tahun 1996 menunjukkan bahwa
"gabungan" ini mustahil terjadi. Crompton mencapai kesimpulan berikut
ini: Mahluk hidup hanya dapat berjalan tegak, atau dengan keempat
kakinya.28
Cara berjalan setengah-setengah antara bipedal
dan kuadripedal sangat menguras energi. Itu sebabnya tidak mungkin
ada makhluk setengah bipedal.
Jarak yang terlalu jauh antara manusia dan kera tidak
hanya meliputi bipedalisme. Masih banyak hal lain yang tidak dapat
diterangkan seperti kapasitas tengkorak, kemampuan ber-bicara, dan
sebagainya. Elaine Morgan, seorang ahli paleoantropologi evolusionis,
mengakuinya:
Empat misteri yang paling membingungkan tentang manusia
adalah: 1) me-ngapa mereka berjalan dengan dua kaki? 2) mengapa
mereka kehilangan seluruh bulu? 3) mengapa mereka mengembangkan
otak yang besar? 4) mengapa mereka belajar berbicara?
Jawaban ortodoks untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah:
1) 'Kita belum tahu'; 2) 'Kita belum tahu'; 3) 'Kita belum tahu';
4) 'Kita belum tahu'. Daftar pertanyaan bisa bertambah panjang
tanpa mengubah kemonotonan jawaban.29
Evolusi: Kepercayaan yang Tidak Ilmiah
Lord Solly Zuckerman adalah salah seorang peneliti terkemuka
dan terhormat di Inggris. Bertahun-tahun ia meneliti catatan fosil
dan melakukan banyak penyelidikan secara terperinci. Ia dianugerahi
gelar kebangsawanan "Lord" untuk kontribusinya bagi ilmu pengetahuan.
Zuckerman adalah seorang evolusionis. Jadi, komentarnya mengenai
evolusi tidak dapat dianggap sebagai pernyataan untuk menentang
teori evolusi. Setelah bertahun-tahun meneliti fosil yang digunakan
dalam skenario evolusi manusia, ia berkesimpulan bahwa silsilah
seperti itu tidak ada.
Zuckerman juga menyusun sebuah "spektrum ilmu pengetahuan"
yang menarik. Ia membentuk spektrum ilmu pengetahuan dari yang dianggapnya
ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling
"ilmiah" tergantung pada data konkret-adalah bidang kimia dan fisika.
Setelah itu biologi, kemudian diikuti ilmu-ilmu sosial. Pada ujung
berlawanan, yang dianggap paling tidak "ilmiah", terdapat "extra-sensory
perception (ESP)"konsep seperti telepati dan indra keenam-dan terakhir
adalah "evolusi manusia". Zuckerman menjelaskan alasannya:
Kita kemudian bergerak dari kebenaran objektif langsung
ke bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti extra
sensory perception atau interpretasi sejarah fosil manusia. Dalam
bidang-bidang ini, segala sesuatu mungkin terjadi bagi yang percaya,
dan orang yang sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus
beberapa hal yang saling kontradiktif.30
Lalu, alasan apa yang membuat banyak ilmuwan berkeras
mempertahankan dogma ini? Mengapa mereka berusaha begitu keras mempertahankan
teori ini agar tetap hidup, walaupun harus mengalami berbagai konflik
dan membuang bukti-bukti yang mereka temukan sendiri?
Satu-satunya jawaban adalah ketakutan mereka akan fakta
yang harus mereka hadapi jika teori evolusi ini ditinggalkan. Fakta
bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Akan tetapi, mengingat praduga
dan filsafat materialistis mereka, penciptaan adalah konsep yang
tidak dapat diterima evolusionis.
Untuk alasan ini, mereka menipu diri sendiri serta semua
orang di dunia, melalui kerja sama dengan media massa. Jika mereka
tidak dapat menemukan fosil yang dibutuhkan, mereka akan "membuatnya"
baik dalam bentuk gambar rekaan atau model-model khayalan, dan mencoba
memberikan kesan bahwa fosil-fosil yang membuktikan teori evolusi
benar-benar ada. Sebagian media massa yang menganut pandangan materialistis
juga mencoba menipu masyarakat dan menanamkan kisah evolusi ke alam
bawah sadar manusia.
Sekeras apa pun mereka mencoba, kebenaran tetap jelas:
manusia muncul bukan melalui proses evolusi tetapi karena telah
diciptakan Allah. Karena itu, manusia bertanggung jawab kepada-Nya
betapa pun ia tidak ingin menerima tanggung jawab ini.
  
1.
David Pilbeam, "Humans Lose an Early Ancestor", Science, April 1982,
S.6- 7. 
2. Engin Korur, "Gözlerin ve Kanatlarin Sirri" (The Mystery
of the Eyes and the Wings), Bilim ve Teknik, No. 203, Oktober 1984,
hlm. 25.
3. Nature, Vol. 382, 1 Agustus 1996, hlm. 401. 
4. Carl O. Dunbar, Historical Geology, New York: John Wiley
and Sons, 1961, hlm. 310.
5. Holly Smith, American Journal of Physical Antropology,
Bd. 94, 1994, S. 307-325 ff. 
6. Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld, "Implication
of Early Hominid Labryntine Morphology for Evolution of Human Bipedal
Locomotion", Nature, Bd. 369, Juni 23, 1994, S. 645-648 ff. 
7. Tim Bromage, New Scientist, Bd. 133, 1992, S. 38-41
ff. 
8. J. E. Cronin, N. T. Boaz, C. B. Stringer, Y. Rak, "Tempo
and Mode in Hominid Evolution", Nature, Bd. 292, 1981, S. 113-122
ff. 
9. C. L. Brace, H. Nelson, N. Korn, M. L. Brace, Atlas
of Human Evolution, 2.b. New York: Rinehart and Wilson, 1979 
10. Alan Walker, Scientific American, Bd. 239 (2), 1978,
S. 54 
11. Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids,
Baker, 1992, S. 83. 
12. Boyce Rensberger, The Washington Post, November 19,
1984
13.Ýbid.
14. Richard Leakey, The Making of Mankind, London: Sphere
Books, 1981, S. 62.
15.Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids,
Baker, 1992. S. 136
16. Erik Trinkaus, "Hard Times Among the Neandertals",
Natural History, Bd. 87, Dezember 1978, S. 10; R. L. Holloway, "The
Neandertal Brain: What Was Primitive", American Journal of Physical
Anthropology Supplement, Bd. 12, 1991, S. 94
17.Alan Walker, Science, Bd. 207, 1980, S. 1103
18. A. J. Kelso, Physical Antropology, 1. Aufl., New York:
J. B. Lipincott Co., 1970, S. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge,
Bd. 3, Cambridge: Cambridge University Press, 1971, S. 272
19. S. J. Gould, Natural History, Bd. 85, 1976, S. 30
20. Time, November 1996
21. L. S. B. Leakey, The Origin of Homo Sapiens, ed. F.
Borde, Paris: UNESCO, 1972, S. 25 ff.; L. S. B. Leakey, By the Evidence,
New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974
22. "Is This The Face of Our Past", Discover, Dezember
1997, S. 97 ff. 
23. A. J. Kelso, Physical Anthropology, 1.b., 1970, S.
221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge, Bd. 3, Cambridge: Cambridge University
Press, 1971, S. 272 
24. Donald C. Johanson & M. A. Edey, Lucy: The Beginnings
of Humankind, New York: Simon & Schuster, 1981, S. 250 
25. Science News, Bd. 115, 1979, S. 196 f. 
26. Ian Anderson, New Scientist, Bd. 98, 1983, S. 373

27. Russell H. Tuttle, Natural History, März 1990, S.
61 ff. 
28. Ruth Henke, "Aufrecht aus den Bäumen", Focus, Bd.
39, 1996, S. 178 
29.Elaine Morgan, The Scars of Evolution, New York: Oxford
University Press, 1994, S. 5 
30. Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower, New York:
Toplinger Publications, 1970, S. 19  |